-->
Selasa, 19 Mei 2015

SUKSES DALAM PETERNAKAN SAPI



 SUKSES DALAM PETERNAKAN SAPI




                  Pendahuluan
   Pembangunan peternakan pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan untuk memanfatkan dan mengelola sumber daya alam berupa lahan, pakan, dan faktor produksi lainya seperti tenaga kerja dan modal. 
     Kebijakan pembanguanan peternakan diarahkan untuk meningkatkan populasi ternak dalam rangka memenuhi target populasi ternak sekitar 14,6  juta ekor pada tahun 2014 untuk mendukung tercapainya program pemerintah yaitu swasembada daging sapi tahun 2014. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah untuk mencapai target tersebut dengan mengoptimalkan sumberdaya alam, manusia dengan dukungan modal melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E) dan Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS).
     Pencapaian swasembada daging sapi tahun 2014, sudah seharusnya bukan hanya ke arah peningkatan populasi ternak sapi potong saja, akan tetapi juga harus diarahkan untuk peningkatan kuantitas dan kualitas daging sapi. Peningkatan kuantitas dan kualitas daging sapi, belum menjadi program yang prioritas dari pemerintah. Program yang menjadi prioritas adalah 1) Memperbanyak jumlah populasi sapi induk melalui KUPS, 2) Pemanfaatan lahan masih potensial digunakan untuk peternakan, dan 3) Meningkatkan jumlah kelahiran anak sapi. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah meningkatkan kuantitas dan kualitas daging setiap ekornya melalui pembesaran dengan model Feedlot atau Pasture Fattening. Sehingga walaupun populasi tidak mencapai 14,6 juta ekor swasembada daging dapat tercapai karena produksi daging per ekor cukup tinggi.
        Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistisk pada tahun 2010 bahwa produksi daging dalam negeri sebanyak 435,3 ribu ton dan jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,6 juta jiwa dengan kebutuhan daging sebanyak 510,2 ribu ton. Sehingga kebutuhan daging defisit sebanyak 74,9 ribu ton yang dipenuhi dari import daging. Trend inport daging dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang dapat dilihat yaitu tahun 2008 (45,6) ribu ton, 2009 (67,9) ribu ton dan tahun 2010 (74,9) ribu ton. Berdasarkan fenomena ini maka diharapkan semua pihak perlu berkontribusi uantuk mencapai program pemerintah tersebut. Untuk itu melalui program Ib-IKK dapat melakuakan pembesaran dan sekaligus dapat mendorong peningakatan populasi ternak sapi melalui budidaya penggemukan dengan memanfaatkan lahan yang potensil utuk pengembangan peternakan.



Manajemen
        Untuk proses pengendalian keuangan, akan dibuatkan accounting book keeping.  Informasi ini penting untuk menganalisis dan menginterpretasikan statistik maupun informasi keuangan dari bisnis yang dibentuk, sehingga manajer dapat melakukan penilaian independent mengenai rasio keuntungan dan biaya operasional setiap periode produksi.  Selain itu juga untuk mengobservasi kinerja anggaran dan hal-hal terkait dengan perpajakan, termasuk inventarisasi (inventory) harta perusahaan, keefektifan operasional usaha, menjaga system akuntansi dan transaksi perusahaan.
Manajemen IbIKK ini berada pada sistem manajemen tim IbIKK Penggemukan Sapi dan bertanggung jawab langsung ke manajemen Unit Wirausaha dan Ekonomi Lokal LP2M UNHAS, dan DIKTI yang didelegasikan dalam sistem manajemen UNHAS.  IbIKK ini diharapkan akan menjadi salah satu income generator bagi UNHAS, untuk itu, sistem manajemen IbIKK ini akan dibangun dengan menggunakan Sistem Plasma.  Dengan sistem manajemen plasma ini, diharapakan semua stakeholder wirausaha UNHAS dalam bidang penggemukan yang berminat dapat mengembangkan wirausahanya secara independen dengan bermitra plasma dengan IbIKK ini.
Pemasaran
        Pemasaran produk sebuah usaha merupakan aspek yang paling menentukan keberlanjutan usaha tersebut.  Produk yang dihasilkan Ib-IKK ini merupakan kebutuhan masyarakat Sulawesi Salatan dan Indonesai pada umumnya.  Produk IbIKK ini merupakan salah satu sumber untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat yang selama ini untuk memenuhinya dalakun inport dari Australia dalam bentuk daging dan bakalan ternak sapi.  Teknik pemasaran yang akan diterapkan pada IbIKK ini adalah kombinasi system tradisionil samapi pada system modern melai internet.  Pada tahun awal, dimana jumlahnya masih sangat sedikit, akan digunakan system tradisionil.  Namun demikian, pada tahun-tahun selanjutnya, dimana jumlah ternak semakin meningkat, maka akan digunakan pemasaran online di internet.  Dan pada puncaknya, dimana jumlah ternak mencapai angka skala eksport, maka akan diadakan kerjasama pemasaran dengan pihak eksportir ternak sapai.  Harga jual produk ini IbIKK ini berkisar antara Rp 7.000.000,- sd. Rp 7.500.000.
Oleh karena daging sapi merupakan salah satu kebutuhan dasar makanan kesehatan, maka konsumen dari produk IbIKK ini menjangkau semua kalangan masyarakat, baik local, regional, maupun internasional.

Itu sedikit  ulasan dari saya tentang PETERNAKAN SAPI  terimakasih telah mengunjungi blog saya. Semoga dapat bermanfaat buat teman dan dapat menjadi acuan untuk mencapai sukses kedepannya.  Apabila terdapat kesalahan dalam tulisan ini. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Apabila ada kritik dan saran, anda dapat melampirkannya di bawah ini.
________________________SALAM SUKSES________________________
Trimakasih GBU