3 kisah pengusaha sukses indonesia.
Indonesia memiliki banyak
pengusaha top dan terkenal, diantara mereka masih berusia muda namun memiliki
materi yang luar biasa atau dapat dikatakan sudah sukses secara finansial.
Salah satunya adalah:
1. Seorang pengusaha muda Sandiaga Salahuddin Uno. Beliau
adalah mantan ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) sebuah organisasi
yang berisi lebih dari 30.000 pengusaha muda di Indonesia, dan kini menjadi
ketua KADIN (Kamar Dagang Indonesia).
Perjalanan bisnisnya memang begitu panjang dan berliku, Sandiaga Uno bukanlah orang yang sudah biasa berkecimpung di dunia bisnis sejak kecil atau punya keturunan pengusaha ataupun punya modal besar dari orang tuanya. Dia hanyalah orang biasa, bahkan orang tuanya pun lebih memilih bekerja di perusahaan ketimbang jadi pengusaha.
Namun karena punya jiwa bisnis yang tinggi, dia berhasil melihat dan menyulap peluang-peluang usaha dan menjadikan ladang uang yang hingga kini terus dipanennya. Namun sekali lagi, semua itu tidak didapat dengan cara instan, berikut ini kisah sukses yang dijalani oleh Sandiaga Salahuddin Uno yang saya kutip dari website ciputraentrepreneurship.com, silahkan disimak.
Di Indonesia, relatif amat susah mencari orang sukses dalam usia yang relatif muda, setidaknya dalam usia di bawah 40 tahun. Namun demikian, diantara susahnya menemukan orang sukses tersebut, muncul milyarder muda, Sandiaga Salahuddin Uno.
Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) pasti kenal dengan sosok Sandiaga S. Uno. Dia telah lengser dari jabatan ketua umum pusat organisasi yang beranggota lebih dari 30 ribu pengusaha itu.
Sandi–demikian penyandang gelar MBA dari The George Washington University itu biasa disapa–tercatat sebagai orang terkaya ke-63 di Indonesia versi Globe Asia. Kekayaannya 245 juta dolar AS.
Sandi menyatakan tak disiapkan untuk menjadi pebisnis oleh orangtuanya. ”Orangtua lebih suka saya bekerja di perusahaan, tidak terjun langsung menjadi wirausaha,” ujar pria penggemar basket itu.
”Menjadi pengusaha itu pilihan terakhir,” akunya. Karena itulah, dia tak berpikir menjadi pengusaha seperti yang telah dilakoni selama satu dekade ini. ”Saya ini pengusaha kecelakaan,” katanya, lantas tertawa.
Kiprah bisnis Sandi kini dibentangkan lewat Grup Saratoga dan Recapital. Bisnisnya menggurita, mulai pertambangan, infrastruktur, perkebunan, hingga asuransi. Namun, dia masih punya cita-cita soal pengembangan bisnisnya. “Saya ingin masuk ke sektor consumer goods. Dalam 5-10 tahun mendatang, bisnis di sektor tersebut sangat prospektif,” katanya, optimistis.
Seorang pebisnis, kata dia, memang harus selalu berpikir jangka panjang. Bahkan, berpikir di luar koridor, berpikir apa yang tidak pernah terlintas di benak orang. “Mikir-nya memang harus jangka panjang.”
Dia mencontohkan, dirinya masuk ke sektor pertambangan awal 2000. Saat itu, sektor tersebut belum marak seperti saat ini. ”Jadi, ketika sektor itu sekarang naik, kami sudah punya duluan,” ujarnya.
Sandi semula adalah pekerja kantoran. Pascalulus kuliah di The Wichita State University, Kansas, Amerika Serikat, pada 1990, Sandi mendapat kepercayaan dari perintis Grup Astra William Soeryadjaja untuk bergabung ke Bank Summa. Itulah awal Sandi terus bekerja sama dengan keluarga taipan tersebut. ”Guru saya adalah Om William (William Soeryadjaja-Red),” tutur pria kelahiran 28 Juni 1969 itu.
Bapak dua anak itu kemudian sedikit terdiam. Pandangannya dilayangkan ke luar ruang, memandangi gedung-gedung menjulang di kawasan Mega Kuningan. ”Saya masih ingat, sering didudukkan sama beliau (William Soeryadjaja-Red). Kami berdiskusi lama, bisa berjam-jam. Jiwa wirausahanya sangat tangguh,” kenangnya. William tanpa pelit membagikan ilmu bisnisnya kepada Sandi. Dia benar-benar mengingatnya karena itulah titik awal dia mengetahui kerasnya dunia bisnis.
Di Tanah Air, Sandi hanya bertahan satu setengah warsa. Dia harus kembali ke AS karena mendapat beasiswa dari bank tempatnya bekerja. Dia pun kembali duduk di bangku kuliah di George Washington University, Washington. Saat itulah, fase-fase sulit harus dia hadapi. Bank Summa ditutup. Sandi yang merasa berutang budi ikut membantu penyelesaian masalah di Bank Summa.
Sandi kemudian sempat bekerja di sebuah perusahaan migas di Kanada. Dia juga bekerja di perusahaan investasi di Singapura. ”Saya memang ingin fokus di bidang yang saya tekuni semasa kuliah, yaitu pengelolaan investasi,” tuturnya.
Mapan sejenak, Sandi kembali terempas. Perusahaan tempat dia bekerja tutup. Mau tidak mau, dia kembali ke Indonesia. ”Saya berangkat dari nol. Bahkan, kembali dari luar negeri, saya masih numpang orangtua,” katanya. Sandi mengakui, dirinya semula kaget dengan perubahan kehidupannya. ”Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa bertahan,” tutur pria kelahiran Rumbai itu. Apalagi, ketika itu krisis.
Dia kemudian menggandeng rekan sekolah semasa SMA, Rosan Roeslani, mendirikan PT Recapital Advisors. Pertautan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soeryadjaja. Saratoga punya saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.
Bisa dibilang, krisis membawa berkah bagi Sandi. ”Saya selalu yakin, setiap masalah pasti ada solusinya,” katanya. Sandi mampu ”memanfaatkan” momentum krisis untuk mengepakkan sayap bisnis. Saat itu banyak perusahaan papan atas yang tersuruk tak berdaya. Nilai aset-aset mereka pun runtuh. Perusahaan investasi yang didirikan Sandi dan kolega-koleganya segera menyusun rencana. Mereka meyakinkan investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana ke tanah air. ”Itu yang paling sulit, bagaimana meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek.”
Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang sudah di ujung tanduk itu dan berada dalam perawatan BPPN -lantas berganti PPA-. Kemudian, mereka menjual perusahaan itu kembali ketika sudah stabil dan menghasilkan keuntungan. Dari bisnis itulah, nama Sandi mencuat dan pundi-pundi rupiah dikantonginya.
Sandi terlibat dalam banyak pembelian maupun refinancing perusahaan-perusahaan. Misalnya, mengakuisisi Adaro, BTPN, hingga Hotel Grand Kemang. Dari situlah, kepakan sayap bisnis Sandi melebar hingga kini.
Perjalanan bisnisnya memang begitu panjang dan berliku, Sandiaga Uno bukanlah orang yang sudah biasa berkecimpung di dunia bisnis sejak kecil atau punya keturunan pengusaha ataupun punya modal besar dari orang tuanya. Dia hanyalah orang biasa, bahkan orang tuanya pun lebih memilih bekerja di perusahaan ketimbang jadi pengusaha.
Namun karena punya jiwa bisnis yang tinggi, dia berhasil melihat dan menyulap peluang-peluang usaha dan menjadikan ladang uang yang hingga kini terus dipanennya. Namun sekali lagi, semua itu tidak didapat dengan cara instan, berikut ini kisah sukses yang dijalani oleh Sandiaga Salahuddin Uno yang saya kutip dari website ciputraentrepreneurship.com, silahkan disimak.
Di Indonesia, relatif amat susah mencari orang sukses dalam usia yang relatif muda, setidaknya dalam usia di bawah 40 tahun. Namun demikian, diantara susahnya menemukan orang sukses tersebut, muncul milyarder muda, Sandiaga Salahuddin Uno.
Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) pasti kenal dengan sosok Sandiaga S. Uno. Dia telah lengser dari jabatan ketua umum pusat organisasi yang beranggota lebih dari 30 ribu pengusaha itu.
Sandi–demikian penyandang gelar MBA dari The George Washington University itu biasa disapa–tercatat sebagai orang terkaya ke-63 di Indonesia versi Globe Asia. Kekayaannya 245 juta dolar AS.
Sandi menyatakan tak disiapkan untuk menjadi pebisnis oleh orangtuanya. ”Orangtua lebih suka saya bekerja di perusahaan, tidak terjun langsung menjadi wirausaha,” ujar pria penggemar basket itu.
”Menjadi pengusaha itu pilihan terakhir,” akunya. Karena itulah, dia tak berpikir menjadi pengusaha seperti yang telah dilakoni selama satu dekade ini. ”Saya ini pengusaha kecelakaan,” katanya, lantas tertawa.
Kiprah bisnis Sandi kini dibentangkan lewat Grup Saratoga dan Recapital. Bisnisnya menggurita, mulai pertambangan, infrastruktur, perkebunan, hingga asuransi. Namun, dia masih punya cita-cita soal pengembangan bisnisnya. “Saya ingin masuk ke sektor consumer goods. Dalam 5-10 tahun mendatang, bisnis di sektor tersebut sangat prospektif,” katanya, optimistis.
Seorang pebisnis, kata dia, memang harus selalu berpikir jangka panjang. Bahkan, berpikir di luar koridor, berpikir apa yang tidak pernah terlintas di benak orang. “Mikir-nya memang harus jangka panjang.”
Dia mencontohkan, dirinya masuk ke sektor pertambangan awal 2000. Saat itu, sektor tersebut belum marak seperti saat ini. ”Jadi, ketika sektor itu sekarang naik, kami sudah punya duluan,” ujarnya.
Sandi semula adalah pekerja kantoran. Pascalulus kuliah di The Wichita State University, Kansas, Amerika Serikat, pada 1990, Sandi mendapat kepercayaan dari perintis Grup Astra William Soeryadjaja untuk bergabung ke Bank Summa. Itulah awal Sandi terus bekerja sama dengan keluarga taipan tersebut. ”Guru saya adalah Om William (William Soeryadjaja-Red),” tutur pria kelahiran 28 Juni 1969 itu.
Bapak dua anak itu kemudian sedikit terdiam. Pandangannya dilayangkan ke luar ruang, memandangi gedung-gedung menjulang di kawasan Mega Kuningan. ”Saya masih ingat, sering didudukkan sama beliau (William Soeryadjaja-Red). Kami berdiskusi lama, bisa berjam-jam. Jiwa wirausahanya sangat tangguh,” kenangnya. William tanpa pelit membagikan ilmu bisnisnya kepada Sandi. Dia benar-benar mengingatnya karena itulah titik awal dia mengetahui kerasnya dunia bisnis.
Di Tanah Air, Sandi hanya bertahan satu setengah warsa. Dia harus kembali ke AS karena mendapat beasiswa dari bank tempatnya bekerja. Dia pun kembali duduk di bangku kuliah di George Washington University, Washington. Saat itulah, fase-fase sulit harus dia hadapi. Bank Summa ditutup. Sandi yang merasa berutang budi ikut membantu penyelesaian masalah di Bank Summa.
Sandi kemudian sempat bekerja di sebuah perusahaan migas di Kanada. Dia juga bekerja di perusahaan investasi di Singapura. ”Saya memang ingin fokus di bidang yang saya tekuni semasa kuliah, yaitu pengelolaan investasi,” tuturnya.
Mapan sejenak, Sandi kembali terempas. Perusahaan tempat dia bekerja tutup. Mau tidak mau, dia kembali ke Indonesia. ”Saya berangkat dari nol. Bahkan, kembali dari luar negeri, saya masih numpang orangtua,” katanya. Sandi mengakui, dirinya semula kaget dengan perubahan kehidupannya. ”Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa bertahan,” tutur pria kelahiran Rumbai itu. Apalagi, ketika itu krisis.
Dia kemudian menggandeng rekan sekolah semasa SMA, Rosan Roeslani, mendirikan PT Recapital Advisors. Pertautan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soeryadjaja. Saratoga punya saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.
Bisa dibilang, krisis membawa berkah bagi Sandi. ”Saya selalu yakin, setiap masalah pasti ada solusinya,” katanya. Sandi mampu ”memanfaatkan” momentum krisis untuk mengepakkan sayap bisnis. Saat itu banyak perusahaan papan atas yang tersuruk tak berdaya. Nilai aset-aset mereka pun runtuh. Perusahaan investasi yang didirikan Sandi dan kolega-koleganya segera menyusun rencana. Mereka meyakinkan investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana ke tanah air. ”Itu yang paling sulit, bagaimana meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek.”
Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang sudah di ujung tanduk itu dan berada dalam perawatan BPPN -lantas berganti PPA-. Kemudian, mereka menjual perusahaan itu kembali ketika sudah stabil dan menghasilkan keuntungan. Dari bisnis itulah, nama Sandi mencuat dan pundi-pundi rupiah dikantonginya.
Sandi terlibat dalam banyak pembelian maupun refinancing perusahaan-perusahaan. Misalnya, mengakuisisi Adaro, BTPN, hingga Hotel Grand Kemang. Dari situlah, kepakan sayap bisnis Sandi melebar hingga kini.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2. Majalahinovasi.com
– Pernahkah anda membayangkan seorang tukang sapu yang bekerja membersihkan
jalanan dari sampah dan dedaunan. Atau pernahkah anda membayangkan seorang
tukang kuli bangunan yang harus bekerja banting tulang menghadapi panasnya
terik sinar matahari demi menafkahi keluarga. Tentu saja anda tidak pernah
melirik orang seperti ini.
Tapi
pernahkah anda berpikir orang seperti yang tersebut di atas kini menjadi
seorang pengusaha sukses yang memiliki omset hingga ratusan juta rupiah setiap
bulannya. Mungkin anda akan terkagum-kagum atau cuma bisa melohok melihatnya.
Begitulah
yang terjadi pada Tri Sumono yang kini lewat perusahaan CV 3 Jaya, ia mengelola
banyak cabang usaha, antara lain, produksi kopi jahe sachet merek Hootri, toko
sembako, peternakan burung, serta pertanian padi dan jahe. Bisnis lainnya,
penyediaan jasa pengadaan alat tulis kantor (ATK) ke berbagai perusahaan, serta
menjadi franchise produk Ice Cream Campina.
Dari
berbagai lini usahanya itu, ia bisa meraup omzet hingga Rp 500 juta per bulan.
Pria kelahiran Gunung Kidul, 7 Mei 1973, ini mengaku tak pernah berpikir
hidupnya bakal enak seperti sekarang. Terlebih ketika ia mengenang masa-masa
awal kedatangannya ke Jakarta. Mulai merantau ke Jakarta pada 1993, pria yang
hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA) ini sama sekali tidak memiliki
keahlian.
Ia
nekat mengadu nasib ke Ibu Kota dengan hanya membawa tas berisi kaus dan ijazah
SMA. Untuk bertahan hidup di Jakarta, ia pun tidak memilih-milih pekerjaan.
Bahkan, pertama bekerja di Jakarta, Tri menjadi buruh bangunan di Ciledug,
Jakarta Selatan. Namun, pekerjaan kasar itu tak lama dijalaninya. Tak lama
menjadi kuli bangunan, Tri mendapat tawaran menjadi tukang sapu di kantor
Kompas Gramedia di Palmerah, Jakarta Barat.
Tanpa
pikir panjang, tawaran itu langsung diambilnya. “Pekerjaan sebagai tukang sapu
lebih mudah ketimbang jadi buruh bangunan,” jelasnya.Lantaran kinerjanya
memuaskan, kariernya pun naik dari tukang sapu menjadi office boy. Dari situ,
kariernya kembali menanjak menjadi tenaga pemasar dan juga penanggung jawab
gudang.
Pada
tahun 1995, ia mencoba mencari tambahan pendapatan dengan berjualan aksesori di
Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Saat itu, Tri sudah berkeluarga dengan dua
orang anak. Selama empat tahun Tri Sumono berjualan produk-produk aksesori,
seperti jepit rambut, kalung, dan gelang di Jakarta. Berbekal pengalaman dagang
itu, tekadnya untuk terjun ke dunia bisnis semakin kuat. “Saya dagang aksesori
seperti jepit rambut, kalung, dan gelang dengan modal Rp 100.000,” jelasnya.
Setiap
Sabtu-Minggu, Tri rutin menggelar lapak di Stadion Gelora Bung Karno. Dua tahun
berjualan, modal dagangannya mulai terkumpul lumayan banyak. Dari sanalah ia
kemudian berpikir bahwa berdagang ternyata lebih menjanjikan ketimbang menjadi
karyawan dengan gaji pas-pasan. Makanya, pada tahun 1997, ia memutuskan mundur
dari pekerjaannya dan fokus untuk berjualan.
Berbekal
uang hasil jualan selama dua tahun di Gelora Bung Karno, Tri berhasil membeli
sebuah kios di Mal Graha Cijantung. “Setelah pindah ke Cijantung, bisnis
aksesori ini meningkat tajam,” ujarnya.
Tahun
1999, ada seseorang yang menawar kios beserta usahanya dengan harga mahal.
Mendapat tawaran menarik, Tri kemudian menjual kiosnya itu. Dari hasil
penjualan kios ditambah tabungan selama ia berdagang, ia kemudian membeli
sebuah rumah di Pondok Ungu, Bekasi Utara. Di tempat baru inilah, perjalanan
bisnis Tri dimulai.
Pengalaman
berjualan aksesori sangat berbekas bagi Tri Sumono. Ia pun merintis usaha toko
sembako dan kontrakan. Sejak itu, naluri bisnisnya semakin kuat. Saat itu, ia
langsung membidik usaha toko sembako. Ia melihat, peluang bisnis ini lumayan
menjanjikan karena, ke depan, daerah tempatnya bermukim itu bakal berkembang
dan ramai. “Tapi tahun 1999, waktu saya buka toko sembako itu masih sepi,”
ujarnya.
Namun,
Tri tak kehabisan akal. Supaya kawasan tempatnya tinggal kian ramai, ia
kemudian membangun sebanyak 10 rumah kontrakan dengan harga miring. Rumah
kontrakan ini diperuntukkan bagi pedagang keliling, seperti penjual bakso,
siomai, dan gorengan. Selain mendapat pemasukan baru dari usaha kontrakan, para
pedagang itu juga menjadi pelanggan tetap toko sembakonya. “Cara itu ampuh dan
banyak warga di luar Pondok Ungu mulai mengenal toko kami,” ujarnya.
Seiring
berjalannya waktu, naluri bisnisnya semakin kuat. Tahun 2006, Tri melihat
peluang bisnis sari kelapa. Tertarik dengan peluang itu, ia memutuskan untuk
mendalami proses pembuatan sari kelapa. Dari informasi yang didapatnya
diketahui bahwa sari kelapa merupakan hasil fermentasi air kelapa oleh bakteri
Acetobacter xylium. Untuk keperluan produksi sari kelapa ini, ia membeli
bakteri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor. “Tahap awal saya
membuat 200 nampan sari kelapa,” ujarnya.
Sari
kelapa buatannya itu dipasarkan ke sejumlah perusahaan minuman. Beberapa
perusahaan mau menampung sari kelapanya. Tetapi, itu tidak lama. Lantaran
kualitas sari kelapa produksinya menurun, beberapa perusahaan tidak mau lagi
membeli. Ia pun berhenti memproduksi dan memutuskan untuk belajar lagi.
Untuk
meningkatkan kualitas sari kelapa, ia mencoba berguru ke seorang dosen Institut
Pertanian Bogor (IPB). Mulanya, dosen itu enggan mengajarinya karena menilai
Tri bakal kesulitan memahami bahasa ilmiah dalam pembuatan sari kelapa. “Tanpa
sekolah, kamu sulit menjadi produsen sari kelapa,” kata Tri menirukan ucapan
dosen kala itu.
Namun,
melihat keseriusan Tri, akhirnya sang dosen pun luluh dan mau memberikan les
privat setiap hari Sabtu dan Minggu selama dua bulan. Setelah melalui
serangkaian uji coba dengan hasil yang bagus, Tri pun melanjutkan kembali
produksi sari kelapanya. Saat itu, ia langsung memproduksi 10.000 nampan atau
senilai Rp 70 juta. Hasilnya lumayan memuaskan. Beberapa perusahaan bersedia
menyerap produk sari kelapanya. Sejak itu, perjalanan bisnisnya terus
berkembang dan maju.
Demikian
kisah motivatif tentang Tri Sumono yang membuktikan bahwa dengan ketekunan dan
kerja keras pasti bisa meraih setiap apa yang di impikan dan cita-citakan.
Semoga kisah di atas bisa menjadi sebuah isnpirasi bagi kita semua.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
3.
Bisnis ayam kampung bisa
membawa rezeki berlimpah di ibu kota. Itulah yang dilakukan Bambang Krista,
pemilik Citra Lestari Farm di Bekasi, Jawa Barat. Peternakan ayam kampung milik
Bambang mampu memasok 5.000 ekor dan 10.000 butir telur ayam kampung per pekan.
Banyak yang berbisnis ayam
kampung di negeri ini. Tapi siapa sangka, bisnis ayam kampung bisa menjadi
bisnis primadona di perkotaan. Bambang Krista lewat Citra Lestari Farm di
Bekasi, Jawa Barat, membuktikan, bisnis ayam kampungnya membuat dia terkenal
sebagai pemasok ayam kampung dan telur di Jakarta.
Bambang sukses membangun
rantai bisnis ayam kampung itu di Jabodetabek. Bambang tidak hanya menjual ayam
kampung siap potong saja, dia juga menjual telur ayam kampung dan bibit ayam
kampung atau daily old chicken (DOC).
Dari peternakan ayam kampung
miliknya seluas enam hektare (Ha) di Bekasi, Bambang bisa menghasilkan 3.000
sampai 5.000 ekor ayam kampung siap potong per pekan. Selain itu dia juga
menyuplai 10.000 butir telur ayam kampung per pekan untuk memenuhi kebutuhan di
pasar-pasar di kawasan Jabodetabek saja.
Belum cukup hanya itu,
Bambang juga menjual DOC ayam kampung sebanyak 7.000 sampai 10.000 ekor per
pekan. “Omzet saya bisa lebih dari Rp 200 juta,” kata Bambang.
Ayam kampung dan telur ayam
kampung dari peternakan Bambang tidak hanya masuk pasar tradisional. Bambang
juga memasok ayam kampung itu ke pasar modern. Sementara permintaan DOC ayam
kampung berdatangan dari peternak ayam kampung di seputaran Jabodetabek dan
beberapa peternak di Jawa Barat.
Kesuksesan pria asli Solo ini
membangun bisnis ayam kampung tidak datang begitu saja. Bambang bekerja keras
agar bisa mengangkat pamor bisnis peternakan ayam kampung tersebut.
Salah satu kiatnya adalah,
Bambang menyiapkan dengan baik sebelum terjun di bisnis ini. Lihat saja,
sebelum membuka peternakan, Bambang lebih dulu melakukan riset untuk mencari
bibit ayam kampung yang unggul. Dia meneliti dengan baik, mulai dari mencari
induk unggul hingga telur yang layak ditetaskan.
Karena tekun, Bambang sukses
menemukan DOC ayam kampung unggul yang diberi nama DOC ayam kampung super.
Keunggulan DOC ayam kampung super itu terletak pada usia panen yang lebih cepat
dibanding DOC ayam kampung biasa. “Saya butuh enam kali perkawinan silang untuk
menemukan DOC ayam kampung super,” ujar Sarjana Peternakan dari Universitas
Diponegoro itu.

1 Response to " 3 kisah pengusaha sukses indonesia. "
KISAH NYATA..............
Ass. Saya Dari Kota Surabaya Ingin Berbagi Cerita
dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
internet dan menemukan nomor Ki Jaya,saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya dikasi solusi,
awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Jaya alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya silahkan hub Ki Jaya di nmr 0823 4704 5525 atau kunjungi web: www.pesugihaninstan.jw.lt Kiyai Jaya,indahnya berbagi,assalamu alaikum.
KEMARIN SAYA TEMUKAN TULISAN DIBAWAH INI SYA COBA BERGABUNG TERNYATA BETUL,
BELIAU SUDAH MEMBUKTIKAN KESAYA !!!
((((((((((((DANA GHAIB)))))))))))))))))
Pesugihan Instant 10 MILYAR
Mulai bulan ini (oktober 2015) Kami dari padepokan mengadakan program pesugihan Instant tanpa tumbal, serta tanpa resiko. Program ini kami khususkan bagi para pasien yang membutuhan modal usaha yang cukup besar, Hutang yang menumpuk (diatas 1 Milyar), Adapun ketentuan mengikuti program ini adalah sebagai berikut :
Mempunyai Hutang diatas 1 Milyar
Ingin membuka usaha dengan Modal diatas 1 Milyar
dll
Syarat :
Usia Minimal 21 Tahun
Berani Ritual (apabila tidak berani, maka bisa diwakilkan kami dan tim)
Belum pernah melakukan perjanjian pesugihan ditempat lain
Suci lahir dan batin (wanita tidak boleh mengikuti program ini pada saat datang bulan)
Harus memiliki Kamar Kosong di rumah anda
Proses :
Proses ritual selama 2 hari 2 malam di dalam gua
Harus siap mental lahir dan batin
Sanggup Puasa 2 hari 2 malam ( ngebleng)
Pada malam hari tidak boleh tidur
Biaya ritual Sebesar 10 Juta dengan rincian sebagai berikut :
Pengganti tumbal Kambing kendit : 5jt
Ayam cemani : 2jt
Minyak Songolangit : 2jt
bunga, candu, kemenyan, nasi tumpeng, kain kafan dll Sebesar : 1jt
Prosedur Daftar Ritual ini :
Kirim Foto anda
Kirim Data sesuai KTP
Format : Nama, Alamat, Umur, Nama ibu Kandung, Weton (Hari Lahir), PESUGIHAN 10 MILYAR
Kirim ke nomor ini : 0823 4704 5525
Atau kunjungi web www.pesugihaninstan.jw.lt
SMS Anda akan Kami balas secepatnya
Maaf Program ini TERBATAS .